Innalillahi wa inna ilaihiroji'un....
Semuanya berasal dari Allah SWT dan akan kembali kepadaNya.
Seorang Wea mati ?
Bagaimanapun dia akan pergi... bahkan untuk selamanya.
Jika... waktu itu akan datang... dan pasti suatu saat terjadi
Apa yang bisa kulakukan sebagai bagian darinya di belakang layar?
Wea bukanlah mutlak diriku.Dia ada setelah adanya proses perenungan, penulisan, editing dan posting, bahkan kadang curhat-ing :)
Dan tulisan ini kutulis karena kurasa....
Terasa juga bahwa sudah lama aku tidak kembali menengok blog ini,
Mungkin karena Wea sedang mati suri saat ini
Yang ada hanyalah diriku... egoku, dan deskripsiku tentang hidup belakangan ini
tentang aku....bukan tentang Wea atau siapapun...
Egoku terlalu besar untuk bisa kubagi dengannya, hanya akan kunikmati sendiri.
Apalagi jika Wea sudah mati.
Karena aku bukanlah Wea dengan sampah kalimat bijaknya, walaupun kadang copy paste dari berbagai sumber. Bahkan kadang aku ingin membunuhnya, pergi jauh dari diriku.
Karena dia membuatku lemah untuk bisa memenangkan egoku. Dia selalu mempengaruhiku untuk bisa mengerti orang lain, memaksaku untuk memahami kehidupan yang berbeda dengan prinsipku, kadang memposisikanku menerima sesuatu yang membuatku sesak nafas dengan hanya menangis tanpa perlu amarah lagi, menjadikanku berpola pikir positive thinking terhadap kehidupaan dan lingkungan. Memalsukanku menjadi orang yang baik-baik saja dihadapan semua orang. Aku sungguh membencinya.
Wea, Aku sudah habis kesabaran.
Look.. aku ingin menjadi jahat dan kejam.
Pelit untuk berbuat baik pada orang lain, tidak perlu memaafkan kesalahan orang. Bisa meminta materi lebih dari pelayanan dan perhatian yng kuberikan. Tidak perlu repot mengkhawatirkan nasib seseorang, tidak butuh menyayanginya lagi.
Aku lelah menjadi baik tanpa balasannya. Aku sudah menjadi gilaaaaaa....
dengan merindukannya setiap waktu tanpa kepeduliannya.
Dan keterlaluan.... aku selalu memikirkannya, tanpa bisa ke lain hati.
Jauh... tolong jauhkan aku darinya.... dari Wea yang membuatku memiliki hati ini.
Tapi jika aku mati dengan membawa diriku yang seperti ini... ???
Astaghfirullah....
Waktu yang sementara
Apa yang bisa kukatakan untuk bisa memohon maaf dengan benar?
Apa yang bisa kuberikan untuk mampu terus menyayanginya?
Apa yang bisa kulakukan untuk bisa membuatnya tersenyum bahagia?
Apa yang bisa kudoakan untuk ibadah dan hidayah Allah pada makhlukNya?
Sisa waktu hanya sebentar
Sementara itu...
Dia semakin menghilang...
Dan tulisan ini bukanlah tentang dualisme kepribadian.
Tapi tentang ... derunya nafas, denyutan nadi, dan dentuman hati
Yang sewaktu-waktu bisa terhenti.
Sabtu, 28 Januari 2012
Minggu, 11 September 2011
ME vs MYSELF
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Semoga Pembaca semua sedang berbahagia, apapun keadaannya jangan lupa untuk merasa tetap bahagia. Long time, terasa lama saya baru kembali ke blog ini, Selamat Lebaran 1432 H dan semoga kesalahan dan kekhilafan kita masing-masing bisa dimaafkan, semangatlah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Back to “My Heart in the Mirror” series….
Bagaimana sebuah hati ketika berkaca, apa yang ingin dikatakannya?
Bagaimana sebuah hati ketika berkata akan mengatakan kejujuran dan kebenarannya.
Dan bagaimana hati kita sebenarnya sama bahwa kasih sayang, perdamaian, kejujuran, kebenaran, keimanan, kebersamaan, kekeluargaan adalah kebahagiaan hati yang tulus.
Lupakan sejenak “Looking for My Heart” atau “Cyber Love” series, karena itu hanyalah draft sebuah novel dan masih mengambang juntrungannya. Mentok idenya, yealah….
Bagaimanapun ketahuan amatirannya nih hehehe…. Apa yang tetap kuketahui dan kuyakini adalah silaturahim yang baik dan persahabatan tetap lebih indah pada masanya. Dan hanyalah Allah SWT yang mengatur takdir-Nya kepada makhluk-Nya. Iman yang baik, Ibadah yang khusuk adalah kenikmatan yang sangat luar biasa jika menyadari kesempatan waktu yang masih tersisa. Yang berlalu tetap indah, tapi tetap yang terindah dan lebih baik adalah di jalan-Nya, apapun patut untuk disyukuri dan ada hikmahnya.
Me vs Myself….
Saat egoku menerpaku, hatiku seakan tertutup untuk menerima sebuah kebenaran. Saat hatiku terbuka, yang kuterima adalah ketidakjujuran….
Bertanyalah pada hati? Tapi hatipun sangat rancu saat sedih, pilu, kecewa, bahkan marah mendominasi. Lalu kepada siapakah harusnya bertanya dengan jawaban yang benar? Benar bukan menurut sebuah ego invididu, bukan benar menurutku, bukan benar menurutmu, tapi kebenaran yang datangnya dari Sang Esa, satu-satunya kebenaran yang harus diyakini.
Saat Me sebagai diriku kecewa, Myself sebagai diriku sendiri dengan hatiku akan menenangkannya. Saat Myself sedih dan hatiku gundah, Me sebagai diriku akan menguatkannya untuk terus bertahan dan tetap bersyukur pada kehidupan yang masih terus. Saat Me dan Myself sakit, seluruh diriku sendiri terguncang badai yang sangat keras? Selama masih ada yang menderu dan jantung berpacu, aku masih ada untuk tersenyum, Allah akan menjagaku….
Sungguh…. Kemanapun, dimanapun kita melangkah…. Apa sesungguhnya yang kita cari? Kepuasaan yang tidak habisnya, kesenangan yang menggelora, kenikmatan yang melewati batasnya, astaghfirullah, apakah itu kebahagiaan sejati yang bermakna? Nilai ibadahnya apa? Adakah pertimbangan dosa dan pahalanya? Kehidupan duniawi yang fana sangat memanggil untuk dilewati hanya menurut kebenaran diri dan ego pribadi? Aku sendiri bukan manusia yang sempurna, lebih banyak kekuranganku dibandingkan sedikit kelebihan yang ada, ada salah….. ada marah.. ada kecewa.. ada sedih…. beberapa hal di luar kebahagiaan dan kebenaran. Tapi haruskah aku terpaku hanya pada sebuah kutub negative, sedangkan ada kutub positif yang bernilai lebih baik? Walaupun gelombang magnetudo saling tarik menarik, yang salah membisikkan “akulah yang benar”, yang benar memerintakan, “akulah hati dan iman”. Mau kemana hai kau panca indera mengarah dan melangkah?
Setiap saat, hitungan per detik bahkan per sekian detik, setip waktu, ucapan, tindakan, pikiran, imaginasi, ngayal-ngayal, semuanya, kita tak lepas dari pandangan Allah SWT. Saat sehat…. merasa diri sangat kuat dan mampu. Saat mampu secara materi, menduduki jabatan tinggi, menuruni harta gono gini, yang terlihat adalah indahnya duniawi. Okelah, semua orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengejar keinginan dan kebahagiaannya menurut versinya. Tapi apa yang ada di bumi, di dunia ini hanyalah titipan-Nya…. Semuanya akan sirna. Mengapa sangat bangga pada sesuatu yang bersifat sementara?
Mati bisa setiap waktu tanpa kita siap. Miskin bisa tak terduga datangnya. Sakit apalagi selalu betah menyapa. Apalagi yang pantas untuk disombongkan dengan selalu merasa benar menurut versi individunya? Ketika dianggap salah, astgahfirullah, bukanlah menghakimi dirinya. Merasa salah adalah urusan setiap individu dengan hatinya. Bukan denganku, bukan dengan hakim dan jaksa, yang hanya sementara pernyataannya. Penghakiman sesungguhnya di dunia tidaklah ada, karena hakim seadil-adilnya hanyalah Allah Ta’ala. Jadi tidaklah perlu merasa salah jika diri benar, tidaklah harus merasa benar, jika hati nurani mati untuk bisa mengakui kesalahan, bukan mengakui kepada sesama manusia, tapi langsung kepada Pencipta dalam sujudnya.
Dari film “IF ONLY” yang dimainkan Jennifer Love Hewit, seorang kekasih tadinya sangat egois, hanya memikirkan kebenaran dari sisinya dan kepentingan pekerjaannya, tanpa memperdulikan pasangannya, lupa pada tanggung jawab moril dan etikanya. Sampai sebuah mimpi menjadi nyata bahwa kekasihnya hanya tinggal mempunyai waktu 1 hari untuk hidup. Dan Innalillahi wainna ilaihi roji’un, istri Saiful Jamil yang baru menikah 6 bulan tiba-tiba dipanggil oleh-Nya dalam sebuah kecelakaan. Banyak hal lain yang kadang mata kita kita melihat tapi hati tertutup untuk menyadari keterbasan umur kita sehingga lupa memberikan perhatian pada orang dekatnya, lupa menyalami saudaranya, lupa berbuat kebajikan pada sesama, lupa bahwa orang lain dan kita sendiri bisa sewaktu-waktu tiada. Penyesalan karena kehilangan seseorang terasa akan terlambat jadinya. Apalagi kehilangan iman dan hidayah-Nya di saat nafas telah habis waktunya ?
Aku kembali sholat malam bersujud pada-Nya, menangis memohon pada-Nya bahwa apapun aku ingin dekat dengan-Nya, dekat dengan kasih sayang-Nya, dekat dengan amalanku semoga diterima. Dan sungguh malu dalam tangisku, bahwa aku setiap saat meminta-minta pada-Nya, tapi ibadahku berlumlah bertambah dari waktuku yang ada. Seseorang mungkin bisa membuat senang, sesuatu bisa membuat bahagia. Tapi di saat sulit, di saat jatuh, di saat sakit, di saat derita menerpa, siapa orang yang masih hadir tersisa? Kembali hanya kepada Allah, kita bisa mengadu tanpa ragu untuk menenangkan jiwa dan menguatkan diri untuk menghadapi setiap lara.
Me vs Myself ini kutulis adalah untuk intropeksi diriku sendiri. Mengoreksi kesalahan yang harus kuakui pada Sang Illahi, bahwa yang lalu jika salah adanya kepada siapapun juga mohon dimaafkan. Aku yang salah, aku yang khilaf, aku yang sesat, alhamdulillah hanya karena Allah SWT ada titik-titik air wudhu yang membasuhku untuk kembali menerima hidayah-nya. Mungkin telat disadari walaupun diketahui bahwa umur sangatlah pendek dan singkat, saat kebaikan dan kebenaran datang dari-Nya, sambutlah. Jangan ditunda, jangan ditolak, jangan diabaikan. Subhanallah, Maha Suci Allah, buka mata dan hati untuk menyebut asma-Nya jangan sampai tertutup. Audzubillah, pintu aja kalau kekunci, hilang kuncinya, apes dah gak bisa buka, apalagi ditutup dari kasih sayang dan hidayah-Nya.
…. Allah telah mengunci mati, hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS Al-Baqarah 6-7)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang jika disebut nama Allah akan gemetarlah hati mereka, dan apabika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal (QS Al Anfaal: 2)
Semoga tulisan ini juga bermanfaat untuk Pembaca. Bahwa sekali lagi the life is so short, sangat sebentar kehidupan fana ini. Apa lagi yang ditunggu untuk memulai berbuat kebaikan pada orang lain? Sedikit saja demi sedikit jika berat, akan bernilai pahala. Sedekah pada fakir miskin, perhatian pada anak terlantar, dan tak lupa hanya sekedar ucapan terima kasih ataupun menanyakan kabar kepada orang terdekat akan bermakna ibadah, walaupun hanya berupa sebuah senyuman.
Jika sebuah harapan tidak terjawab, jika kenyataan tidaklah seindah impian, jika sebuah pesan tidaklah mendapatkan reply-nya tetaplah berbesar hati. Ada beberapa pertimbangan bahwa ada banyak hal lain yang lebih baik untuk dilakukan. Kesedihan dan kekecewaan jangan terus terpendam. Kekurangan bukanlah selalu berupa kesialan. “Kekurangan yang diterima dengan ikhlas adalah awal dari kelebihan"
Ketika sebuah pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. Kadang kita menyesali pintu yang tertutup tersebut terlalu lama dan tidak melihat pintu lain terbuka (Thomas A. Edison).
Finally from this posting….
Memaafkna orang lain adalah mulia. Tapi lebih mulia memohon maaf diri pada Sang pencipta. Terima kasih tetap bersama @weadiary
Semoga Pembaca semua sedang berbahagia, apapun keadaannya jangan lupa untuk merasa tetap bahagia. Long time, terasa lama saya baru kembali ke blog ini, Selamat Lebaran 1432 H dan semoga kesalahan dan kekhilafan kita masing-masing bisa dimaafkan, semangatlah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Back to “My Heart in the Mirror” series….
Bagaimana sebuah hati ketika berkaca, apa yang ingin dikatakannya?
Bagaimana sebuah hati ketika berkata akan mengatakan kejujuran dan kebenarannya.
Dan bagaimana hati kita sebenarnya sama bahwa kasih sayang, perdamaian, kejujuran, kebenaran, keimanan, kebersamaan, kekeluargaan adalah kebahagiaan hati yang tulus.
Lupakan sejenak “Looking for My Heart” atau “Cyber Love” series, karena itu hanyalah draft sebuah novel dan masih mengambang juntrungannya. Mentok idenya, yealah….
Bagaimanapun ketahuan amatirannya nih hehehe…. Apa yang tetap kuketahui dan kuyakini adalah silaturahim yang baik dan persahabatan tetap lebih indah pada masanya. Dan hanyalah Allah SWT yang mengatur takdir-Nya kepada makhluk-Nya. Iman yang baik, Ibadah yang khusuk adalah kenikmatan yang sangat luar biasa jika menyadari kesempatan waktu yang masih tersisa. Yang berlalu tetap indah, tapi tetap yang terindah dan lebih baik adalah di jalan-Nya, apapun patut untuk disyukuri dan ada hikmahnya.
Me vs Myself….
Saat egoku menerpaku, hatiku seakan tertutup untuk menerima sebuah kebenaran. Saat hatiku terbuka, yang kuterima adalah ketidakjujuran….
Bertanyalah pada hati? Tapi hatipun sangat rancu saat sedih, pilu, kecewa, bahkan marah mendominasi. Lalu kepada siapakah harusnya bertanya dengan jawaban yang benar? Benar bukan menurut sebuah ego invididu, bukan benar menurutku, bukan benar menurutmu, tapi kebenaran yang datangnya dari Sang Esa, satu-satunya kebenaran yang harus diyakini.
Saat Me sebagai diriku kecewa, Myself sebagai diriku sendiri dengan hatiku akan menenangkannya. Saat Myself sedih dan hatiku gundah, Me sebagai diriku akan menguatkannya untuk terus bertahan dan tetap bersyukur pada kehidupan yang masih terus. Saat Me dan Myself sakit, seluruh diriku sendiri terguncang badai yang sangat keras? Selama masih ada yang menderu dan jantung berpacu, aku masih ada untuk tersenyum, Allah akan menjagaku….
Sungguh…. Kemanapun, dimanapun kita melangkah…. Apa sesungguhnya yang kita cari? Kepuasaan yang tidak habisnya, kesenangan yang menggelora, kenikmatan yang melewati batasnya, astaghfirullah, apakah itu kebahagiaan sejati yang bermakna? Nilai ibadahnya apa? Adakah pertimbangan dosa dan pahalanya? Kehidupan duniawi yang fana sangat memanggil untuk dilewati hanya menurut kebenaran diri dan ego pribadi? Aku sendiri bukan manusia yang sempurna, lebih banyak kekuranganku dibandingkan sedikit kelebihan yang ada, ada salah….. ada marah.. ada kecewa.. ada sedih…. beberapa hal di luar kebahagiaan dan kebenaran. Tapi haruskah aku terpaku hanya pada sebuah kutub negative, sedangkan ada kutub positif yang bernilai lebih baik? Walaupun gelombang magnetudo saling tarik menarik, yang salah membisikkan “akulah yang benar”, yang benar memerintakan, “akulah hati dan iman”. Mau kemana hai kau panca indera mengarah dan melangkah?
Setiap saat, hitungan per detik bahkan per sekian detik, setip waktu, ucapan, tindakan, pikiran, imaginasi, ngayal-ngayal, semuanya, kita tak lepas dari pandangan Allah SWT. Saat sehat…. merasa diri sangat kuat dan mampu. Saat mampu secara materi, menduduki jabatan tinggi, menuruni harta gono gini, yang terlihat adalah indahnya duniawi. Okelah, semua orang mempunyai caranya masing-masing untuk mengejar keinginan dan kebahagiaannya menurut versinya. Tapi apa yang ada di bumi, di dunia ini hanyalah titipan-Nya…. Semuanya akan sirna. Mengapa sangat bangga pada sesuatu yang bersifat sementara?
Mati bisa setiap waktu tanpa kita siap. Miskin bisa tak terduga datangnya. Sakit apalagi selalu betah menyapa. Apalagi yang pantas untuk disombongkan dengan selalu merasa benar menurut versi individunya? Ketika dianggap salah, astgahfirullah, bukanlah menghakimi dirinya. Merasa salah adalah urusan setiap individu dengan hatinya. Bukan denganku, bukan dengan hakim dan jaksa, yang hanya sementara pernyataannya. Penghakiman sesungguhnya di dunia tidaklah ada, karena hakim seadil-adilnya hanyalah Allah Ta’ala. Jadi tidaklah perlu merasa salah jika diri benar, tidaklah harus merasa benar, jika hati nurani mati untuk bisa mengakui kesalahan, bukan mengakui kepada sesama manusia, tapi langsung kepada Pencipta dalam sujudnya.
Dari film “IF ONLY” yang dimainkan Jennifer Love Hewit, seorang kekasih tadinya sangat egois, hanya memikirkan kebenaran dari sisinya dan kepentingan pekerjaannya, tanpa memperdulikan pasangannya, lupa pada tanggung jawab moril dan etikanya. Sampai sebuah mimpi menjadi nyata bahwa kekasihnya hanya tinggal mempunyai waktu 1 hari untuk hidup. Dan Innalillahi wainna ilaihi roji’un, istri Saiful Jamil yang baru menikah 6 bulan tiba-tiba dipanggil oleh-Nya dalam sebuah kecelakaan. Banyak hal lain yang kadang mata kita kita melihat tapi hati tertutup untuk menyadari keterbasan umur kita sehingga lupa memberikan perhatian pada orang dekatnya, lupa menyalami saudaranya, lupa berbuat kebajikan pada sesama, lupa bahwa orang lain dan kita sendiri bisa sewaktu-waktu tiada. Penyesalan karena kehilangan seseorang terasa akan terlambat jadinya. Apalagi kehilangan iman dan hidayah-Nya di saat nafas telah habis waktunya ?
Aku kembali sholat malam bersujud pada-Nya, menangis memohon pada-Nya bahwa apapun aku ingin dekat dengan-Nya, dekat dengan kasih sayang-Nya, dekat dengan amalanku semoga diterima. Dan sungguh malu dalam tangisku, bahwa aku setiap saat meminta-minta pada-Nya, tapi ibadahku berlumlah bertambah dari waktuku yang ada. Seseorang mungkin bisa membuat senang, sesuatu bisa membuat bahagia. Tapi di saat sulit, di saat jatuh, di saat sakit, di saat derita menerpa, siapa orang yang masih hadir tersisa? Kembali hanya kepada Allah, kita bisa mengadu tanpa ragu untuk menenangkan jiwa dan menguatkan diri untuk menghadapi setiap lara.
Me vs Myself ini kutulis adalah untuk intropeksi diriku sendiri. Mengoreksi kesalahan yang harus kuakui pada Sang Illahi, bahwa yang lalu jika salah adanya kepada siapapun juga mohon dimaafkan. Aku yang salah, aku yang khilaf, aku yang sesat, alhamdulillah hanya karena Allah SWT ada titik-titik air wudhu yang membasuhku untuk kembali menerima hidayah-nya. Mungkin telat disadari walaupun diketahui bahwa umur sangatlah pendek dan singkat, saat kebaikan dan kebenaran datang dari-Nya, sambutlah. Jangan ditunda, jangan ditolak, jangan diabaikan. Subhanallah, Maha Suci Allah, buka mata dan hati untuk menyebut asma-Nya jangan sampai tertutup. Audzubillah, pintu aja kalau kekunci, hilang kuncinya, apes dah gak bisa buka, apalagi ditutup dari kasih sayang dan hidayah-Nya.
…. Allah telah mengunci mati, hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (QS Al-Baqarah 6-7)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang jika disebut nama Allah akan gemetarlah hati mereka, dan apabika dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal (QS Al Anfaal: 2)
Semoga tulisan ini juga bermanfaat untuk Pembaca. Bahwa sekali lagi the life is so short, sangat sebentar kehidupan fana ini. Apa lagi yang ditunggu untuk memulai berbuat kebaikan pada orang lain? Sedikit saja demi sedikit jika berat, akan bernilai pahala. Sedekah pada fakir miskin, perhatian pada anak terlantar, dan tak lupa hanya sekedar ucapan terima kasih ataupun menanyakan kabar kepada orang terdekat akan bermakna ibadah, walaupun hanya berupa sebuah senyuman.
Jika sebuah harapan tidak terjawab, jika kenyataan tidaklah seindah impian, jika sebuah pesan tidaklah mendapatkan reply-nya tetaplah berbesar hati. Ada beberapa pertimbangan bahwa ada banyak hal lain yang lebih baik untuk dilakukan. Kesedihan dan kekecewaan jangan terus terpendam. Kekurangan bukanlah selalu berupa kesialan. “Kekurangan yang diterima dengan ikhlas adalah awal dari kelebihan"
Ketika sebuah pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. Kadang kita menyesali pintu yang tertutup tersebut terlalu lama dan tidak melihat pintu lain terbuka (Thomas A. Edison).
Finally from this posting….
Memaafkna orang lain adalah mulia. Tapi lebih mulia memohon maaf diri pada Sang pencipta. Terima kasih tetap bersama @weadiary
Langgan:
Entri (Atom)
Titles :
- 1X MARAH SAJA PLS (L4H) (1)
- A CHANCE (L4H) (1)
- A LITTLE BIT-JEALOUS (H2H) (1)
- ADA APA DENGANMU (H2H) (2)
- ADAKAH.... SEORANG TEMAN?(L4H) (1)
- AKU BUKAN SIAPA-SIAPA (H2H) (1)
- AM I FALLING IN LOVE ??? (1)
- ANTARA HARAPAN-IMPIAN (H2H) (2)
- ARTI KEJUJURAN (H2H) (1)
- BAYANGANMU (H2H) (1)
- BEHIND THE SCENE OF WEADIARY (L4H) (1)
- BETWEEN ME - MYSELF - WEA (L4H) (1)
- BICARALAH-DENGARLAH (H2H) (2)
- CERITA INDAHNYA PATAH HATI (L4H) (1)
- CINTA PERTAMA (H2H) (2)
- COPY DARAT (CYBER LOVE/CL chapter-1) (1)
- DIAM ITU MANIS (H2H) (1)
- EPISODE-DYING HEART (L4H) (1)
- I'M PROUD OF ... (H2H) (1)
- ISTIKHARAH CINTA (L4H) (1)
- JANGANLAH SAKIT LAGI (H2H) (2)
- JODOH MAYA (Cyber Love-chapter 2) (1)
- KEHILANGANMU ADALAH KERINDUANKU (L4H) (1)
- KETIKA CINTA DITOLAK (H2H) (1)
- KISAH SEEKOR IKAN KECIL (H2H) (1)
- LEARN TO LOVE (L4H) (1)
- LOOKING 4 MY HEART (L4H) (1)
- LOOKING 4 MY HEART continues (L4H) (1)
- LOOKING 4 MYSELF (L4H) (1)
- LOVE ADVERTISING (L4H) (1)
- LOVE IS ... (L4H) (1)
- MARCH FALLS IN LOVE (L4H) (1)
- MAY BE YES - MAY BE NO (L4H) (1)
- ME vs MYSELF (H2H) (1)
- MELIHAT KE LUAR JENDELA (H2H) (1)
- MY TRUE LOVE (L4H) (1)
- OH CINTA-PERJUANGAN BELUM BERAKHIR (L4H) (1)
- PAGI YANG CERAH (H2H) (2)
- PANGERAN HATI-APA KABAR ? (L4H) (1)
- PANGGIL AKU-KAKAK (H2H) (1)
- PEACEFUL HEART (H2H) (1)
- ROBINHOOD-THE THIEF OF MY HEART (L4H) (1)
- SEORANG SAHABAT (H2H) (1)
- SEPOTONG KUE KEBAHAGIAAN (L4H) (1)
- SILENT LOVE (L4H) (1)
- SORRY MY LOVE (L4H) (1)
- TENTANG SEBUAH OPINI (H2H) (1)
- THE 2ND CHANCE (L4H) (1)
- THE RAINBOW JOURNEY (H2H) (1)
- TO BE MR. NICE GUY (H4H) (1)
- TOUCH MY HEART AGAIN (H2H) (1)
- ULANG TAHUN (H2H) (1)
- UNTUK SANG PENCARI KEBAHAGIAAN (L4H) (1)
- WAITING FOR MY EJA (H2H) (1)
- WEA MENCARI CINTA (L4H) (1)
- WOULD YOU BE MY HEART? (L4H) (1)
- YANG TERTINGGAL (H2H) (1)
- YOU ARE NOT ALONE (H2H) (1)


























